Kamis, 29 November 2012

GURUKU KEKASIHKU


“Lia, duduk belakang aja yuk! Panas nich disini.” Ajak Dinda. Mereka sekarang lagi les di salah satu lembaga bimbingan belajar di kota pelajar tersebut.
“Dinda, ngomong-ngomong gimana kabar pangeran udaramu?” Dinda memiliki seorang pacar, namun mereka belum saling mengetahui. Mereka kenal lewat SMS dan jadianpun lewat HP.
“Ya...biasa aja. Tadi pagi dia telpon aku. Dan katanya sich dia ada di Jawa Timur. Eh, aku suruh nyebutin di mana tepatnya dia nggak mau.”
“Tunggu dech. Emange dia kerja dimana?”
“Dia sich ngomongnya kerjanya tuch pindah-pintah di seluruh kota yang ada di Jawa gitu. Tau ah! Tuh Tentornya udah dateng. Lho kayaknya tentor baru tuch” mereka mengakhiri pembicaraan saat tentornya datang.
“Wau... cakep banget.” Lanjut Lia
“Selamat sore guys” sapa tentor yang masih muda and ca’em tersebut.
“Sebelumnya perkenalan dulu aja ya. Nama saya Yoga Pratama, biasa dipanggis Mas Yoga, asli Solo City Central Java.” Dinda dan Lia langsung terdiam.
“Status . . .” tanya anak-anak yang selalu ingin tahu
“Kalau saya sich masih bujang. Tapi, pendaftaran sudah ditutup. Karena saya sudah memiliki seseorang yang spesial” jawab Mas Yoga dengan PDnya.
“Lia, bener nggak sich pendengaran aku?” tanya Dinda yang tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dinda langsung saja mengeluarkan HPnya dan menelfon pacar udaranya tersebut.
“Semoga ini hanya kebetulan saja” doa Dinda yang tak ingin percaya dengan yang terjadi. Dan HP sang tentor berbunyi. Anak-anak langsung bersorak tanpa dikomando. Dinda_pun langsung mematikan HPnya.
“Oh ya, ini semua satu sekolah kan?” lanjut sang tentor untuk meredam kebisingan ruangan.
“Iya Pak........ eh, Mas” jawab anak-anak yang mulai beranjak dewasa itu dengan kompaknya.
“Kalian dari SMA mana?”
“SMA Negeri 2 Surabaya gitu lho” jawab Eggi dengan bangga menyebut nama sekolahnya.
“O... SMA Negeri 2 Surabaya.” Jelas sang tentor.
Dinda sudah tak berani berkutik. Dia hanya terdiam saat sang tentor menjelaskan tentang Aritmatika. Memang Dinda sangat menyukai pelajaran Matematika. Tapi bukan itu yang membuatnya diam. Dia Cuma tidak ingin perhatian sang tentor tertuju pada dia. Karena setiap ada anak yang ramai Mas Yoga langsung memberi pertanyaan.
Dinda bisa saja menjawab pertanyaan mas Yoga, yang ia takutkan kalau mas Yoga hafal dengan suaranya. “Untung aku nggak pake nama Asliku saat kenalan sama dia. Bisa mati aku.” Kata Dinda kepada Lia yang sembari tadi juga sama-sama diamnya.
Les di hari itupun usai. Dinda langsung menghela nafas panjang-panjang. Dinda dan Lia pulang paling akhir.
“Din, mas Yoga masih di dalam samperin sana gih!”
“Gila kamu ya! Bisa mati aku” tak berselang lama tiba-tiba mas Yoga memanggil mereka berdua.
“Dek, tunggu sebentar.” Merekapun tak jadi pulang karena Mas Yoga menyuruknya berhenti.
“Ada apa Mas?” tanya Lia.
“Kalian dari SMA Negeri 2 Surabaya juga kan?”
“Iya, memangnya ada apa ya Mas?”
“Apa kalian kenal dengan Clarisa. Biasanya dipanggil Icha. Dia anak 3A3.”
“Iya kenal” jawab Dinda, yang akhirnya mau angkat bicara juga.
“Lho suara kamu kok mirip Icha ya?”
“Ya, enggak lah. Masak suara Dinda mirip suara Icha sich Mas. Mas ngarang dech.”
“Dek, aku boleh titip salam buat dia nggak?”
“Boleh aja kok Mas. Tapi ada satu syarat.” Jawab Lia dengan santainya.
“Apa tuch syaratnya?”
“Mas Yoga harus setia dengan kelas kita. Maksudnya, setiap ada jam Matematika, Mas Yoga harus ngisi kelas kita.” Lia mengajukan syarat dengan alasannya. Dinda masih terdiam di dekat Lia sambil melirik Yoga.
Hari demi haripun telah berlalu. Dinda masih saja mengikuti les yang dibimbing oleh Yoga. Dan Icha juga masih setia dengan pacar udaranya yang sudah dia ketahui wajahnya. Walaupun Yoga belum tau wajah Icha. Biarin, salah siapa enggak usaha.
Satu bulan telah berlalu. “Icha, kamu tau nggak ini tanggal berapa?” Tanya Yoga saat dia telfon Icha.
“Tanggal 2 Agustus emangnya kenapa?” tanya Icha, sebenarnya dia tahu dengan maksud kata-kata Yoga. Dan mereka janjian mau ketemuan setelah usia hubungan mereka dua bulan.
“Aku nggak bisa kalo ntar sore. Aku ada Les.” Jawab Icha saat diajak ketemuan sore harinya.
Akhirnya mereka sepakat menunda pertemuan mereka untuk yang pertama kalinya.
Les disore yang melelahkan itu dimulai. Dinda sudah bertekat hati untuk menampakkan dirinya yang sebenarnya. Saat pengisian daftar hadir siswa, Dinda menuliskan nama samarannya, Icha.
“OK. Sudah satu bulan saya mengisi di kelas ini. Hari ini saya akan mengenal kalian satu per satu.” Mas Yoga memanggil nama siswa-siswinya satu per satu, sampai juga urutan Icha. Dia tidak berani menampakkan wajahnya, Dinda hanya berani mengacungkan jari dan Mas Yoga pun terdiam.
Teman-teman Dinda pada bingung dengan kelakuan sang tentor dan salah seorang teman mereka. “Mas, kok malah diam. Cepetan lanjutin. Atau... tentor kita jatuh cinta pada Dinda?” Eggi memecah keheningan.
“Hu. . . hu . . .hu . . .” sorak anak-anak yang lain. Hingga jam pelajaran sore usai Mas Yoga masih bertanya-tanya apa benar dia Icha, pacarnya.
(Yoga, kini qm udh tau sp aq. Qm udh tau sperti apa aq. 2 bln tlh berlalu ‘n qt udh saling ktmu) itulah yang ditulis Dinda di layar HPnya sesaat sebelum mereka pulang les.
Setelah les usai, Dinda dan Lia langsung berdiri untuk beranjak pulang. Namun, mereka pulang paling akhir. “Icha, tunggu sebentar” cegah Yoga saat mereka akan beranjak keluar ruangan.
“Din, aku pulang dulu ya” emang Lia adalah sahabat yang pengertian.
“Thanks ya Lia.” Sahut Dinda
Icha dan Yoga pun pergi berdua. Mereka telah tepati janji mereka untuk bertemu setelah hubungan mereka berusia dua bulan. Tak hanya itu, Yoga juga telah bertemu dengan Orang Tua Dinda, dan mengutarakan niatnya untuk bertunangan dengan Dinda sebelum mereka melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
Dan Guru Les Dinda juga menjadi kekasihnya. Tiada yang tidak mugkin di dunia ini, segala kemungkinan dapat terjadi. Segala kebahagian dapat diraih, jika kita mau bersabar dan berserah diri pada-Nya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar